Ternate (2): Juwita Obsesi Eropa
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember.
Terbang dari Jakarta ke Ternate, sebagai bagian tim peneliti “Jalur Rempah” FISIP-Universitas Jember, adalah muhibah saya yang pertama ke pulau kecil ini. Ketika mau mendarat di Bandara Sultan Babullah, dari jendela pesawat tampak gunung Gamalama berdiri menjulang tinggi, laiknya mercusuar raksasa yang menerangi laut di sekitarnya. Mengamati dari udara kontur daratannya, saya punya kesan tersendiri. Dalam pandangan mata saya, Ternate lebih terlihat sebagai “gunung berapi yang berwujud pulau” daripada “pulau yang bergunung api”.
Dalam perjalanan sejarah, kemolekan Ternate telah diakui sejak lama. Jejak kronik kisahnya terekam dengan baik. António Galväo (Galvano) yang ditabalkan Portugis sebagai Governor the Fort of Ternate (1536-1539), misalnya; pernah melukiskan Ternate secara eksotik dengan racikan kata yang apik: “Pulau kecil [itu] bernama Gumnape (atau Ternate), dari tempat tertingginya serpihan [lava] terus-menerus jatuh ke dalam laut laiknya aliran sungai api, suatu [pemandangan] yang menakjubkan untuk dilihat”. Di masa kekuasaan Galväo ini, nampaknya, lereng gunung Gamalama merupakan bibir pantai pulau Ternate. Tak ayal, slope pundak dan pinggang gunung ini menjadi jalan penghantar lava pijar, sebelum aliran panas ini berendam mendinginkan diri di laut.
Sesaat setelah pesawat mendarat, berjalan keluar melewati pintu kedatangan bandara Sultan Babullah, pandangan mata langsung dihadapkan pada tembok dengan tulisan mencolok: “Ternate Kota Rempah”. Pahatan guratan tulisan ini bersandar pada tebing tanah, sebagai penegasan bahwa Rempah merupakan identitas daerah. Tak dapat disangkal, rempah, khususnya cengkeh, yang sempat jaya dan mendunia; memang merupakan tanaman asli (endemic) setempat. Marco Ramerini menggarisbawahi, bahwa dalam sejarah Ternate merupakan pulau utama dari kepulauan rempah. “Satu-satunya tempat di dunia yang pada saat kedatangan Portugis, cengkeh [sudah] tumbuh liar”, tegasnya. Kapan mulai tumbuhnya? Entah! Tak seorangpun mampu berhujah. Tatkala para peneliti tak kuasa untuk menyingkap misteri ini, akhirnya John W. Perry, seakan mewakili kepasrahan para peneliti, hanya mampu bernarasi dengan mengakui kebesaran Illahi. “Awal mulanya, tak tersentuh dan tak terganggu, berkat kekuasaan dan perlindungan Tuhan … di pulau-pulau vulkanik Maluku, cengkeh dan pala yang harum berbuah di lereng gunung”, tandasnya. Sebuah ungkapan yang menyiratkan kekerdilan manusia.
Namun, terdapat sisi lain dari rempah yang sempat terhimpun. Catatan awal kesaksian budidaya Cengkih baru muncul pada abad ke limabelas. Antonio Pigafetta (1480–1534), anggota ekspedisi sekaligus pencatat kronik misi pelayaran keliling dunia perdana Fernando de Magelhaens, mengungkap: “[Cengkih] hanya tumbuh di pegunungan … jika pohon ini ditanam di dataran rendah… ia akan mati; kami melihat hampir setiap hari awan turun mengelilingi gunung [Gamalama] ini … sehingga Cengkihnya [tumbuh] dengan lebih sempurna”. Kesaksian lain, memperkuatnya. Penulis pertama tentang obat-obatan tropis dan ethnobotany, Garcia de Orta (1563), mengukuhkan cerita Pigafeta, dengan mengatakan: “[Cengkih] tidak tumbuh terlalu dekat dengan laut … meskipun [tanaman itu] berada di pulau-pulau [kecil] yang dikelilingi laut”. Sampai kini, di Ternate, Cengkih “Afo” (tua) generasi ketiga yang telah berumur lebih dari 300 ratus tahun masih hidup dan tegak berdiri di lereng gunung Gamalama.
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa menegaskan bagaimana Ternate memang sempat menjadi pulau dambaan. Bahkan, mitos dan legenda telah diracik sejak 2500 tahun yang lalu, sebagai cara pedagang Arab guna menyembunyikan asal-usul rempah dari incaran para kompetitornya; yakni kekuatan ekonomi dan militer Eropa, yang secara obsesif sangat ingin menemukannya. Nilai ekonomis rempah yang tinggi, telah menyingkirkan ketakutan mereka akan resiko kematian untuk tetap merapah. Tak pelak, Ternate bak Juwita idaman. Tapi, tragisnya, nilainya yang tak tertara sempat mengundang petaka. Sebagai bagian kepulauan rempah, Charles Nowell sempat menggambarkan episode kelam Ternate ini. Ia menggambarkan pulau kecil ini sebagai wilayah “yang paling berharga untuk diperebutkan, dan pada abad ke enambelas [hanya] menunggu penjelajah dan penakluk”; sebuah ungkapan getir yang menyiratkan tipisnya batas antara kemewahan dan kesedihan. Pasalnya, kekayaan Ternate memang sempat menghantarkannya pada jerembab sejarah penaklukan oleh penjajah.
Meski demikian, lumpur penjajahan tak serta merta menghapus keelokan Ternate. Dalam sejarahnya, terdapat tiga elemen yang menjadikannya pesona yang diperebutkan, yakni laut, gunung, dan cengkih. Berabad-abad yang lalu pengakuan akan kemolekan Ternate telah diabadikan oleh bangsa Eropa. Salah satunya, ke tiga elemen ini tersurat dalam lirik lagu epic Portugis, sebagai manifestasi apresiasi sekaligus pujian negara ini terhadap ‘heroisme’ para penjelajah lautnya yang telah menguak misteri, bahkan berhasil menemukan, kepulauan Rempah yang terletak nun jauh di dunia belahan timur ini. Nukilan baitnya berbunyi ...
Di atas Samudera Timur arahkan pandanganmu,
Dan lihatlah di mana pulau-pulau yang tak terhitung banyaknya tersebar;
Tidore, Ternate dengan pemandangannya, gunung [sebagai] asal muasal nyala api [yang] menari di sekeliling kawahnya yang terbakar;
Demikian pula [kehadiran] pohon-pohon Cengkih membuatnya semakin sensasional,
Sementara, dengan darah, Portugal [berhasil] mendapatkannya …
Meski di dalamnya unsur kebanggaan dan kegetiran bercampur, wajah eksotik Ternate tidaklah luntur. Disebutnya Ternate and Tidore cukup beralasan. Pasalnya, saat itu, kedua pulau ini memang merupakan epicentre politik dan ekonomi Maluku. Klaim bahwa kepulauan Rempah telah ditebus dengan "darah Portugal” menunjukkan pengorbanan besar mereka dalam penjelajahan guna menemukan pulau Rempah. Ganasnya laut dan liarnya alam adalah tantangan besarnya. Setiap tahunnya, tercatat sekitar 2.400 pemuda Portugis berlayar menuju kawasan the Indies, merujuk wilayah Afrika dan Asia, tempat bersemayamnya emas dan rempah. Tapi, sebagian besar mereka tak kembali karena mati. Ekspedisi Vasco da Gama tahun 1488 ke India, misalnya, saat berangkat menggunakan 4 kapal dengan membawa 170 pelaut. Tatkala pulang ke Portugis, hanya tersisa 1 kapal yang berhasil kembali dengan 55 orang awak yang masih hidup. Kala itu, Maluku digambarkan bersuhu sangat panas, selalu berhujan lebat, dengan arus lautnya yang berbahaya; karena dipengaruhi oleh kuatnya angin musim. Tak bisa dipungkiri, lirik lagu epic serdadu Portugis di atas adalah testimoni tentang Maluku, khususnya Ternate, sebagai pulau dambaan yang digambarkan bak surga dunia.
Narasi Portugis bahwa Ternate, beserta rempahnya, telah ditebus dengan 'darah'-nya; mencerminkan makna yang mendalam. Yang pasti, narasi ini telah mentahbiskan Cengkih sebagai barang yang sangat berharga, laiknya ‘emas hijau’. Nilai ekonominya yang tinggi, menjadikannya komuditas yang paling dicari. Selain itu, statusnya sebagai bagian dari kemewahan eksotik kuno, telah menorehkan perannya yang signifikan dalam menentukan sejarah dunia. Salah satunya, Rempah telah melahirkan obsesi ekspedisi laut Spanyol mengelilingi dunia, yang dipimpin Fernando de Magelhaens dan Juan Sebastian Elcano. Spanish circumnavigation ini telah menghantarkan kita pada peradaban dunia yang kini pekat dengan arus globalisasi. Kala Rempah berjaya, terdapat tiga kategori kelompok tumbuhan yang berperan sangat penting bagi kesejahteraan umat manusia, yaitu: tanaman pangan, tanaman obat, dan kayu. Namun, kata John W. Perry, “tak satupun di antara ketiganya punya pengaruh yang mendunia terhadap politik kehidupan dan masa depan manusia sebesar [pengaruh] yang dimiliki oleh Rempah”. Tidaklah mengherankan jika kemudian Cengkih sempat menjadi pemicu persaingan ekonomi-politik di Maluku kala itu. Walhasil, Ternate, sebagai pusat perdagangannya , pada akhirnya juga tak bisa lepas dari gerak sejarah tersebut. Wallhua’lam ... (bersambung)
Advertisement