Profesor Juwono Sudarsono (2): Hasrat Akademik nan Tak Pernah Pudar
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Dalam proses selanjutnya, sosok Pak Juwono Sudarsono seakan setia mengawal perjalanan akademik saya. Pertama, dalam fieldwork untuk penyusunan tesis master. Seperti sudah saya perkirakan, mencari narasumber dari kalangan TNI, memang sangat sulit. Selain protokoler yang ketat, keengganan informan untuk diwawancarai juga merupakan tantangan tersendiri. Untuk mensiasatinya, saya dibantu teman-teman jurnalis yang sudah kenal, atau yang pernah kontak dengan perwira tinggi TNI. Saat serah terima jabatan Pangdam Jaya dari Mayor Jenderal Wiranto ke Mayor Jenderal Sutiyoso, misalnya, dengan bantuan teman-teman jurnalis saya bisa masuk perhelatan dan dipertemukan dengan sekian pejabat TNI yang hadir. Hasilnya, mereka mau menerima saya. Tapi, kala bertemu; dengan berbagai alasan, kebanyakan dari mereka cenderung mengelak, bahkan menolak, untuk diwawancarai. Padahal, saya sudah menyodorkan dokumen Human Research Ethic Committees (HREC) dari Flinders University, guna menjamin confidentiality.
Setidaknya ada dua kemungkinan alasan di balik keengganan perwira tinggi TNI kala itu untuk diwawancarai. Pertama, masalah kecurigaan. Hampir setiap ketemu narasumber TNI, pertanyaan sering menghadang saya adalah: "Anda siapa?”. Jawaban saya selalu konsisten: “Saya akademisi yang sedang penelitian untuk tesis!”. Kedua, adalah kekhawatiran, atau setidaknya kehati-hatian. Mereka mungkin cemas bahwa informasi yang akan mereka berikan bisa menganggu karier. Maklum, sudah menjadi rahasia umum; semasa orde Baru hampir semua dinding punya kuping. Sikap kehati-hatian ini, tercermin pada sikap perwira tinggi TNI yang akan diwawancarai. Kala saya temui, seorang brigadir jenderal angkatan darat langsung bertanya: “[Dari kalangan TNI] sudah ketemu siapa saja?”. Saya jawab: “Maaf Pak, karena semuanya bersifat confidential; maka secara etik saya tidak bisa menyebutnya. Jika saya sebut, justru Bapak akan semakin tak percaya pada saya!”. Meski saya sudah berusaha meyakinkannya, informan TNI ini tetap mengelak, dengan menunda wawancara.
Penundaan wawancara yang paling akut terjadi ketika saya bermaksud wawancarai seorang perwira tinggi TNI bintang tiga. Sosok ini penting karena berkiprah dalam dunia inteligen dan merupakan salah satu pemikir dalam tubuh TNI. Kala bertemu pertama kali, sebuah pertanyaan mencegat saya: “Anda orang siapa?”. Saya langsung jawab: “Saya bukan orang siapa-siapa, Pak! Saya dosen yang sedang tugas belajar dan PNS, sehingga secara aturan saya tak boleh berpolitik. Kebetulan, sekarang saya sedang penelitian untuk tesis master”. Namun, penjelasan yang relatif rinci ini tak serta merta bisa menembus kesediaannya untuk diwawancarai. “Ya, lain waktu saja; kita cari waktu yang tepat. Nanti hubungi ajudan saya!”, adalah jawaban pengelakkan alias penundaan. Bahkan, penundaannya sampai empat kali. Padahal, tokoh ini adalah salah satu informan kunci. Di tengah kebuntuan ini, akhirnya saya memberanikan diri untuk mempersilahkannya mengulik jati diri. “Jika Bapak masih saja meragukan saya, silahkan mengkonfirmasi ke Pak Juwono Sudarsono atau Pak Salim Said”. Besok paginya, agak di luar dugaan, saya langsung dikontak ajudannya; mengabarkan bahwa bosnya siap diwawancarai. Saya yakin, perwira tinggi TNI ini telah mengkonfirmasi profil saya ke Pak Juwono atau Pak Salim. Sekali lagi, Pak Juwono memberikan saya jaminan akademik. Beliau tak ubahnya seperti password yang membuat layar penelitian saya terkembang, sehingga fieldwork-pun melaju kencang.
Selesai meraih Master of Arts, saya mulai berupaya meretas jalan untuk studi PhD. Salah satu modalnya, janji Pak Juwono Sudarsono untuk memberikan letter of recommendation. Awal 1999, berangkatlah saya ke Jakarta untuk menemui Pak Juwono. Kala itu, beliau telah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Reformasi, di bawah Presiden B.J. Habibie. Sesampainya di Departemen [sekarang Kementerian] Pendididikan dan Kebudayaan (DEPDIKBUD), saya ingin bisa langsung menghadap Pak Juwono; tapi terhambat protokol Menteri. Seorang Satpam menjelaskan: “Bapak harus mengajukan permohonan tertulis, dan penjadwalan akan memakan sekitar 1,5 bulan; tergantung kesibukan Pak Menteri”. Dari pada ke Jakarta sia-sia, sorenya saya bertandang ke rumah Pak Salim Said; guna minta tolong untuk mengontak Pak Juwono. Di hadapan saya, Pak Salim langsung meneleponnya: “Mas Juwono, ini ada Bayu dari Jember. Tadi pagi mau menghadap tapi terbentur protokol. Katanya, Mas Juwono pernah berjanji memberikan rekomendasi?!”. Jawabannya, Pak Juwono menyuruh saya menghadap jam 12 besoknya. Alokasi waktu pas jam istirahat, adalah solusi cerdas; karena tak menganggu antrean tamu yang sudah terjadwal sejak awal, meski Pak Juwono sendiri harus menunda makan siangnya.
Besoknya, saat datang lagi ke DEPDIKBUD, Satpam meragukan keterangan saya. “Lihat saya nanti, jika Pak Juwono menolak; maka saya akan pulang”, tukas saya untuk meyakinkannya. Syahdan, Pak Juwono mengantarkan tamunya sampai pintu ruang kerjanya. Saya pun memanggilnya dengan suara agak keras: “Pak Juwono!”. Ketika menoleh, saya pun segara menimpalinya: “Saya, Bayu, yang kemarin petang Bapak minta untuk menghadap sekarang”. Pak Juwono tanggap. “O ya, mari masuk!”, katanya. Saya sempat melirik wajah satpam yang terdiam.
Setelah masuk, di depan meja kerjanya saya duduk. Meski telah jadi menteri, dengan volume kegiatan yang tak terperi; sikap Pak Juwono tak berubah, tetap humble dan ramah. “Maaf ya, kemarin; tak bisa langsung ketemu saya, karena aturan protokoler,” ujarnya, membuka pembicaraan. Ternyata, beliau tak lupa kepada saya, meskipun tak jumpa selama tiga tahun. Pasalnya, beliau langsung menanyakan studi saya: “Gimana studi masternya, sudah selesai, kan?”. Saya-pun akhirnya cerita: “Benar Pak, alhamdulillah sudah lulus. Bahkan, tesis saya mendapat pujian dari dua external examiners-nya, [yakni] Harold Crouch, Indonesianist dari ANU, Canberra; dan satunya Clark D. Neher, ahli Thailand dari Northern Illinois University (NIU), USA. Terima kasih atas kesediaan Bapak menjadi salah satu informan”. Sambil manggut-manggut, Pak Juwono menukas: “Bagus! Sekarang mau melanjutkan ke PhD [program], kan?”. Saya langsung merespon: “Benar, Pak!”. Pak Juwono pun segera menyahut: “OK, tunggu sebentar; saya buatkan letter of recommendation”. Tanpa sempat saya tagih, ternyata, Pak Juwono masih ingat akan janjinya, dan berupaya untuk segera menunaikannya.
Ketika Pak Juwono menghadap komputer, yang berada di sisi kiri dari kursinya, saya sempat melirik rak kayu kecil yang menempel dinding di sebelah kanannya. Isinya, tumpukan bendelan kertas hasil print out. Nampaknya, Pak Juwono sadar apa yang saya perhatikan. Sambil tetap mengetik, beliau berkata: “Rak itu untuk menyimpan draf tulisan atau naskah pemikiran yang belum tuntas!”. Seraya mengangguk, saya cuma bisa berguman: “Ooh!”. Penjelasan Pak Juwono ini bak inspirasi yang menghardik kemandegan akademik. Menduduki jabatan, bahkan selevel menteri pun, tak harus ikut arus, apalagi menggerus, ghirah akademik yang endemik. Membuat letter of recommendation, tak butuh waktu lama. Setelah menandatanganinya, Pak Juwono memberikan pada saya, seraya mendoakan: “Selamat berjuang, semoga lancar dan sukses meraih PhD!”. Dengan penuh rasa terima kasih, saya pun pamit. Tapi, beliau masih menahan saya. Pak Juwono beringsut menggapai rak kayu itu, untuk mengambil papernya, “The Impact of Globalization on Democracy in Indonesia”, untuk dihadiahkan kepada saya.
Tahun 2015, dalam workshop yang diselenggarakan Asosisasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII), di FISIP, Universitas Indonesia (UI); saya berkesempatan untuk berjumpa lagi dengan Pak Juwono Sudarsono. Acara yang membahas Mata Kuliah Inti Jurusan Hubungan Internasional ini, mendatangkan Pak Juwono sebagai salah satu narasumbernya. Sebagai Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, beliau menyarankan setidaknya ada 4 kajian dalam Mata Kuliah Inti, yakni: Politik Luar Negeri, Ekonomi-Politik Internasional (EPI), Diplomasi, dan Geopolitik; selain Teori Hubungan Internasional yang memang mutlak harus ada dalam kurikulum Jurusan Ilmu Hubungan Internasional.
Sarannya di atas, punya landasan empirik-akademik. Dalam kaitan ini, Pak Juwono mengajak peserta workshop untuk merenungkan pergumulan pemikiran George F. Kennan, seorang historian dan diplomat Amerika Serikat (AS). Tahun 1947, saat awal Perang Dingin, negaranya gagap dalam memahami perilaku Uni-Soviet. Apalagi, publik AS kawatir akan pecahnya perang lagi; menyusul pidato Joseph Stalin di Bolshoi theatre, Moskow, pada 9 Februari 1946. Dengan justifikasi teori Marxism-Leninism, Stalin menegaskan bahwa selama kapitalisme eksis, merujuk negara Barat, khususnya AS; perang akan tak terhindarkan. Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS juga cemas, karena Uni-Soviet menolak bergabung International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Untuk menjawab ‘teriakan kebingungan yang memilukan’ (an anguished cry of bewilderment) dari Departmen Keuangan ini, Kennan, yang kala itu menjabat chargé d’affaires di Moskow; menulis ‘The long [diplomatic] telegram’.
Pada Juli tahun 1947, dengan seizin atasannya, George F. Kennan menerbitkan ‘the long [diplomatic] telegram’ tersebut di majalah Foreign affairs, dengan tajuk “The Sources of Soviet Conduct” . Ia tak mencantumkan namanya, tapi memakai pseudonym “X”. Tak aneh, jika artikelnya ini juga popular dengan julukan the “X” article. Di dalamnya, ia menegaskan bahwa pandangan Uni Soviet yang bermusuhan terhadap dunia luar, khususnya Barat; adalah naluri rasa tidak aman Rusia yang telah menahun. Kennan menyarankan AS untuk mengambil langkah politik ‘Pembendungan’ (Containment policy), sebuah strategi geopolitik guna menahan Komunisme Soviet yang cenderung ekspansif. Namun, sebagai arsitek Containment policy,. ia mengkritik politik Luar Negeri AS yang mengimplementasikan konsepnya ini dengan pendekatan yang terlalu militeristik. Padahal, meski ia seorang realist, dalam gagasannya itu Kennan lebih menekankan pendekatan politik dan ekonomi, seperti program Marshall plan yang dilaksanakan Barat pasca Perang Dunia II. Saran Pak Juwono di atas, dengan ilustrasi pergumulan pemikiran George F. Kennan ini, nampaknya masih relevan hingga kini; khususnya terkait dengan dinamika internasional kontemporer yang menunjukkan signifikansi kalkulasi geopolitik.
Acara workshop AIHII tahun 2015 di UI, ternyata merupakan perjumpaan saya yang terakhir dengan Pak Juwono Sudarsono. Sejatinya, dua tahun yang lalu, tim peneliti “Jalur Rempah” FISIP – Universitas Jember, di mana saya menjadi salah satu anggotanya; sempat menghubungi beliau untuk menjadi salah satu narasumber. Tapi, sayangnya, beliau tidak bisa menerima karena alasan kesehatan. Seperti biasa, dengan halus dan santun beliau minta maaf; bahkan masih sempat pula menyertakan doanya untuk kesuksesan penelitian kami. Pak Juwono memang telah berpulang. Tapi, sosoknya akan tetap menginspirasi, baik sebagai akademisi dengan integritas tinggi, pribadi yang humble dan teguh memegang janji, serta hasrat akademiknya yang tak pernah mati. Selamat jalan Pak Juwono! Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu …
Advertisement