Pertanian Organik dan Peran PPAH Jadi Solusi Hadapi Dampak Perubahan Iklim di Jawa Timur
Dampak perubahan iklim semakin dirasakan sektor pertanian di Jawa Timur. Perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu, dan serangan hama penyakit yang tak menentu berpotensi menurunkan produksi tanaman pangan. Untuk menjawab tantangan tersebut, penerapan pertanian organik dan penguatan Peran Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH) menjadi solusi penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Hal ini disampaikan oleh Gathot Mujiono, pakar Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Indonesia, dalam Pertemuan Triwulan Jaringan PPAH βGuyub Rukunβ ke-XI yang digelar di Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, pada Rabu (12 November 2025).
Menurut Gathot, pertanian organik yang berbasis PHT terbukti lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim. βDengan bertani PHT, akan terwujud pertanian berkelanjutan. Itulah pertanian organik yang benar,β tegasnya kepada Ngopibareng.id.
Pertanian Organik dan PHT Jadi Kunci Pertanian Berkelanjutan
Gathot menjelaskan, banyak pelaku pertanian organik saat ini belum memahami prinsip dasar pertanian organik secara utuh. Padahal, penerapan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan proses penting menuju pertanian yang benar-benar berkelanjutan.
βMelalui PHT, insyaallah akan lebih mudah mewujudkan pertanian organik berkelanjutan. Dengan cara ini, pertanian bisa berjalan nyaman, aman, dan tidak merusak lingkungan,β ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pertanian organik bukan sekadar βramah lingkunganβ, melainkan sistem yang memiliki pedoman ilmiah dan mekanisme pengelolaan ekosistem pertanian yang jelas.
βJangan salah kaprah, bukan hanya sekadar tidak pakai kimia. Tapi harus ada prinsip dan prosesnya. Kalau melalui PHT, hasil akhirnya baru bisa disebut organik,β tambahnya.
Peran Vital PPAH dalam Ketahanan Pangan
Selain edukasi dan pendampingan, PPAH (Pos Pelayanan Agen Hayati) memiliki peran penting dalam pengelolaan hama, penyakit tanaman, dan kesuburan tanah secara alami. Melalui agen hayati seperti mikroba dan musuh alami, PPAH membantu petani menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
βPPAH berperan besar dalam memberikan bantuan pengelolaan hama penyakit maupun perbaikan kesuburan tanah yang ramah lingkungan,β terang Gathot Mujiono.
Ia menambahkan, petani yang konsisten menerapkan sistem pertanian organik akan menjadi pionir dalam upaya penyehatan tanah, lingkungan, dan agrosistem, bahkan berdampak positif pada kesehatan konsumen.
βPetani organik sejati akan menjadi pelopor pertanian sehat. Sementara yang masih bergantung pada bahan kimia tidak akan pernah mencapai itu,β pungkasnya.
Dihadiri Pejabat dan Praktisi Pertanian
Pertemuan Triwulan Jaringan PPAH ke-XI ini diselenggarakan oleh UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Tulungagung, dan menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya: Ardi Prastomo, Direktur Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian, Hendra Purnomo, pelaksana PHT, dan Mustofa, petani penggiat Agen Pengendali Hayati (APH) asal Blitar.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi petani dan praktisi pertanian di Jawa Timur untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi ancaman perubahan iklim melalui sistem pertanian organik berkelanjutan.
Advertisement