Penentu Amal Saleh
Pembahasan tentang makna amal saleh kembali menjadi sorotan dalam diskusi keislaman yang mengulas tafsir Al-Qurโan khususnya pada Surah An-Nahl ayat 97. Ayat tersebut menegaskan bahwa siapa pun yang beramal salehโbaik laki-laki maupun perempuanโdan beriman kepada Allah, akan diberikan kehidupan yang baik oleh-Nya.
โBarang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Allah akan memberikan kehidupan yang baik kepadanya,โ demikian makna dari Surah An-Nahl ayat 97 yang menjadi dasar pembahasan.
Secara sederhana, amal saleh berarti perbuatan atau aktivitas yang baik. M. Quraish Shihab mengartikan amal saleh sebagai amal yang diterima dan dipuji oleh Allah SWT. Sedangkan Syekh Muhammad al-Ghazali, dalam Al-Musykilat fi al-Thariq al-Hayah al-Islamiyyah, mengartikan amal saleh dengan "setiap usaha keras yang dikorbankan buat berkhidmat terhadap agama.
Prof M. Quraish Shihab mengatakan bahwa perbuatan dapat dikategorikan amal saleh jika pada dirinya memenuhi nilai-nilai tertentu sehingga ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan kehadirannya, atau dengan kata lain, tujuan penciptaannya. Sesuatu dapat dipandang sebagai amal saleh jika ia berfungsi mendatangkan nilai manfaat.
Sebaliknya, perbuatan yang menimbulkan mudarat, tidak dinamakan amal saleh, tetapi amal salah. Karena itu, sebagian ulama menyatakan bahwa suatu pekerjaan dapat dikatakan baik, apabila ia membawa dampak berupa manfaat dan menolak mudarat. Dengan demikian, tolok ukur suatu amal baik atau tidak adalah terletak pada nilai manfaat atau mudarat yang dikandungnya..
Prof. DR. Quraish Shihab menyebut bahwa dalam Islam, niat bahkan bisa lebih bernilai daripada amal itu sendiri. Hal ini merujuk pada ungkapan yang sering dikutip dalam tradisi keilmuan Islam, yaitu niat seorang mukmin terkadang lebih baik daripada amalnya. Artinya, seseorang yang berniat melakukan kebaikan namun gagal mewujudkannya tetap memperoleh nilai di sisi Allah. Niat yang tulus menjadi fondasi utama dalam setiap perbuatan. โAmal itu dinilai dari niatnya. Dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama, dengan cara dan alat yang sama, tetapi penilaiannya di sisi Tuhan bisa berbeda karena niatnya,โ dalam chanel youtube Qurais Shihab
Prinsip ini juga sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan innamal aโmalu binniyat, yang berarti setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Lebih jauh dijelaskan bahwa amal pada dasarnya adalah penggunaan daya atau potensi yang dimiliki manusia. Potensi tersebut bisa berupa daya fisik, daya pikir, daya hati (kalbu), maupun semangat hidup. Ketika seseorang menggunakan tenaga fisiknya untuk membantu orang lain, menggunakan pikirannya untuk menghasilkan ide yang bermanfaat, atau menggunakan hatinya untuk menebarkan kasih sayang, maka itu termasuk bagian dari amal.
Namun, tidak semua amal otomatis menjadi amal saleh. Sebuah amal baru disebut saleh jika memberikan manfaat dan tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan. โSaleh itu berarti bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan, bahkan makhluk hidup lainnya,โ lanjut Prof Quraisy Karena itu, dalam ajaran Islam terdapat prinsip penting bahwa menghindari kerusakan harus lebih diutamakan daripada sekadar menghasilkan manfaat. Sebagai contoh, tindakan merusak lingkungan tidak dapat dibenarkan meskipun dilakukan dengan alasan untuk membantu orang lain.
Prinsip ini juga berlaku dalam berbagai persoalan sosial. Misalnya, seseorang tidak bisa membenarkan korupsi dengan alasan untuk melakukan kegiatan amal. โTidak ada istilah mencuci dosa dengan kebaikan yang bersumber dari keburukan. Korupsi lalu digunakan untuk ibadah justru menambah dosa,โ tegasnya. Selain itu Islam memandang nilai suatu pekerjaan tidak hanya diukur dari status sosial atau jabatan, tetapi dari dampak yang dihasilkan .Bahkan, seseorang yang bekerja sederhana namun memberikan manfaat bagi banyak orang bisa saja memiliki nilai amal yang lebih tinggi dibanding mereka yang berada di posisi tinggi tetapi membawa kerugian bagi masyarakat. Selain itu, peserta diskusi juga diingatkan agar tidak mudah menilai amal orang lain.
Dalam Islam, setiap perbuatan memiliki dua sisi lahir dan batin. Manusia hanya mampu menilai sisi lahir dari sebuah amal, sedangkan sisi batin seperti niat dan keikhlasan hanya diketahui oleh Allah. โManusia hanya bisa melihat apa yang tampak. Sedangkan Allah melihat hati dan niat di dalamnya,โ jelasnya. Karena itu, seseorang dianjurkan untuk selalu memperbaiki niat sebelum melakukan apa pun. Salah satu cara sederhana adalah memulai setiap aktivitas dengan membaca bismillah, sebagai bentuk kesadaran bahwa pekerjaan tersebut dilakukan demi kebaikan dan karena Allah.
Pada akhirnya, amal saleh tidak hanya dinilai dari besar kecilnya perbuatan namun ketulusan niat, kesesuaian dengan nilai agama, serta manfaat yang dihasilkan bagi kehidupan. Dengan memahami hal tersebut, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berbuat kebaikan sesuai dengan kemampuan masing-masing baik melalui tenaga, pikiran, harta, maupun tindakan sederhana yang memberi manfaat bagi sesama.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement