Indra Piliang, dari Aktivis Mahasiswa Sampai Pesakitan Narkoba
Politisi Golkar, Indra Jaya Piliang diamankan pihak kepolisian polisi, diduga karena kepemilikan narkoba.Β
Kabar ini tentu mengejutkan internal Golkar. Nurul Arifin, kolega Indra di partai pohon beringin itu sampai mengucap kalimat 'astagfirullah' saat mendengar kabar ditangkapnya Indra.
Ia tentu kaget. Pasalnya, selama ini publik mengenal Indra sebagai sosok yang gemilang dalam dunia politik. Dia bahkan pernah berinisiatif maju di Pilkada Kota Pariaman 2013 lewat jalur independen.Β
Namun, Indra kalah di ajang itu. Berpasangan dengan Jose Rizal, dia hanya mendapat 4.646 suara atau 11,25 persen, terpaut jauh dari pasangan Mukhlis Rahman-Genius Umar yang memenangkan Pilkada Pariaman dengan perolehan 15.012 suara atau 36,35 persen.
Pemberitaan seputar Indra Piliang pun jarang yang bernada sumbang. Karena, ia justru sering diberitakan karena sikap politiknya yang kritis. Gagasan-gasanya juga acap kali mondar-mandir di media masa.
Indra bahkan tak bisa dibilang sebagai politikus karbitan. Sebelum menjadi politikus dia terlebih dulu malang melintang di dunia pergerakan atau aktivisme di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).Β
Sejak masih kuliah Sejarah di Universitas Indonesia. Ia menjadi bagian dari generasi mahasiswa yang berjuang melengserkan Soeharto dari kursi presiden pada 1998.Β
Aktivisme Indra membawanya bergabung ke Partai Amanat Nasional yang didirikan oleh tokoh reformasi Amien Rais.Β
Lepas dari PAN, Indra pernah berkarier di dunia penelitian dengan menjadi peneliti di salah satu lembaga kajian bergengsi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia.Β
Lalu, Indra bergabung dengan Golkar pada 2008. Langkah itu sempat menjadi sorotan publik, lantaran pilihan Indra masuk ke Partai Golkar yang dicap bagian dari peninggalan Orde Baru.
Namun, bergabung di Golkar tak mengubah sikap Indra yang kritis. Dia kerap mengkritik kebijakan elit Golkar dan sempat berseberangan dengan partai dalam Pemilu Presiden 2014.
Indra termasuk barisan yang sengit mendorong Setya Novanto meletakkan jabatannya sebagai ketua umum.Β
Sikap kritis itu membuat hubungan Indra dengan beberapa elit Golkar diisukan merenggang. Salah satu indikasinya adalah sikap partai yang tidak mendukung Indra saat maju di Pilkada Pariaman 2013 lalu, yang berujung pada kekalahannya di ajang itu. (frd)
Advertisement