Diplomasi Kulineran Kiai Wahab Hasbullah
Dalam acara bedah Buku KH. Abdul Wahab Chasbullah dan Sarasehan Alim Ulama beberapa hari lalu, terungkap beberapa kisah menarik tentang Kiai Wahab Hasbullah. Salah satu pendiri ini ternyata hobi betul dengan kulineran.
Bahkan lewat strategi kuliner ini beliau melakukan diplomasi yang unik ketika ada sebuah persoalan penting. Kiai Wahab urusan politik, agama atau kanuragan, namun beliau juga seorang ahli masak yang handal.
Cerita tentang kuliner ini diungkapkan oleh Kiai Umar Wahid. Adik kandung Gus Dur ini bercerita perihal pengetahuan Kiai Wahab tentang kuliner ini berdasarkan apa yang pernah dialaminya. Salah satu kisahnya adalah tamasya kuliner bersama dengan Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri. Lewat makanan, keduanya menunjukkan bahwa perbedaan pendapat justru bisa dirayakan dengan tawa, adab, dan silaturahim yang tak pernah putus. Menurut Kiai Umar, kedua tokoh ini sering berbeda pendapat, bahkan soal kuliner. Namun selalu bertemu dalam cinta terhadap pengetahuan, kehangatan keluarga, dan hormat pada keputusan organisasi.
“Dalam urusan kuliner, Kiai Wahab itu enggak ada tandingannya. Kiai Bisri kalah telak,” ujar Dr. Umar, mengenang perjalanan mereka dari Jakarta menuju Jombang puluhan tahun lalu. Kisahnya berawal ketika perjalanan dengan mobil dari Jakarta menuju Jawa Timur pada awal 1960-an . Jalan masih lengang, warung belum banyak, dan internet tentu belum ada untuk memberi tahu mana tempat makan terenak. Namun Kiai Wahab Hasbullah, dengan intuisi yang tak dapat dijelaskan, selalu tahu persis di mana harus berhenti untuk menikmati kuliner terbaik.
Di Cimahi, rombongan berhenti di sebuah pasar kecil. Di sana, menurut cerita, tersaji soto yang “tak masuk akal enaknya.” Anak kecil pun bisa terheran-heran. Bagaimana seorang kiai bisa tahu letak warung enak tanpa petunjuk apa pun. Seakan naluri makan enak memang dianugerahkan khusus kepadanya,” ungkap Kiai Umar. Di setiap kota, dari Bandung hingga Tegal, perselisihan kecil sering terjadi tentang di mana akan makan berikutnya? “Mereka sering berbeda pandangan. Tapi kalau soal rasa, Kiai Wahab menang telak,” kenang Dr. Umar, sambil tertawa.
Soal Dekrit
Meski begitu, ketika sampai di Tegal, keduanya sepakat di satu tempat makan. Di Semarang, mereka makan lagi. Bahkan ketika sudah jelas akan disuguhi hidangan lengkap di Lasem tempat mereka bermalam, Kiai Wahab tetap meminta berhenti dulu di Tuban untuk makan.
Di balik perbedaan kedua tokoh besar ini baik dalam urusan politik ada hal yang unik. Persoalan menjadi cair ke teka di meja makan. Pernah suatu kali terjadi perbedaan tajam terkait sikap terhadap dekret presiden. Perbedaan itu bahkan terbawa hingga suasana keluarga dan organisasi. Namun apa yang dilakukan Kiai Wahab? Ia memasak sendiri untuk mengundang Kiai Bisri datang ke rumahnya. : Bayangkan seorang pendiri organisasi besar, seorang ulama yang dihormati nasional, turun langsung ke dapur, menyiangi gurami, mengaduk bumbu, dan kemudian menghidangkannya sendiri kepada sahabat sekaligus saudaranya dalam perjuangan,” ungkap kiai Umar.
Saat hidangan disajikan, Kiai Bisri mencicipi dan berkata, “Sampean ini masaknya kok masih enak seperti di pesantren dulu.”
Lalu Kiai Wahab dengan lembut namun tegas, “Tapi soal dekret presiden, saya tetap dengan pendapat saya.”
Cerita tentang perbedaan antara dua tokoh besar ini bukan hanya soal politik. Ini juga soal kedewasaan berdemokrasi, warisan yang kini sering hilang dalam perdebatan publik kita. Keduanya bisa berargumen tajam dalam forum PBNU, berbeda pendapat terkait sikap politik terhadap pemerintahan Soekarno, namun ketika keputusan organisasi diambil, semuanya kembali luruh dalam kepatuhan, adab, dan persahabatan. “Saya melihat ini contoh praktik demokrasi yang luar biasa. Berani berpikir, berani berpendapat, tapi tunduk pada keputusan Bersama Di luar forum, keduanya kembali menjadi dua sahabat yang bisa saling mengejek soal pilihan warung makan, bahkan sambil menikmati gurami goreng buatan tangan,” ungkap kiai Umar.
Tentang Kiai Wahab Hasbullah
KH. Abdul Wahab Chasbullah (1888–1971) adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh sentral kebangkitan pemikiran Islam di Indonesia. Lahir di Jombang dari keluarga pesantren, ia menimba ilmu di berbagai pusat pendidikan tradisional seperti Langitan, Mojosari, Tawangsari, hingga berguru kepada Syekh Kholil al-Bangkalani dan KH Hasyim Asy’ari. Perjalanannya ke Makkah turut membentuk kedalaman pemikiran sekaligus ketajaman sikapnya terhadap perkembangan sosial-keagamaan.
Sejak muda, Kiai Wahab dikenal progresif. Ia mendirikan forum diskusi Tashwirul Afkar (1914) yang menjadi pusat perdebatan intelektual lintas golongan serta organisasi Nahdlatul Wathan (1916) yang menjadi cikal bakal gerakan pemuda NU. Ia juga menciptakan lagu perjuangan Ya Lal Wathon pada 1934, yang kemudian menjadi simbol nasionalisme religius warga Nahdliyin. Selain aktif dalam organisasi, ia terlibat dalam perjuangan kebangsaan, termasuk memimpin Laskar Hizbullah dan menjadi anggota DPA bersama sejumlah tokoh nasional.
Kiai Wahab wafat pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Ia dikenang sebagai ulama inspirator, pahlawan nasional, serta perintis struktur organisasi NU melalui pembentukan Syuriyah dan Tanfidziyah. Pemikirannya tentang kebebasan berpikir, dakwah yang lentur, serta penguatan kader muda menjadikannya figur kunci bagi lahirnya Gerakan Pemuda Ansor dan arah modernisasi pemikiran di lingkungan pesantren.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement